Menkes BGS Bukan Dokter, Bisakah Nyalon Jadi Dirjen WHO?
Kesehatan

Menkes BGS Bukan Dokter, Bisakah Nyalon Jadi Dirjen WHO?

Menkes BGS Bukan Dokter, Bisakah Nyalon Jadi Dirjen WHO?

Menkes BGS Bukan Dokter, Bisakah Nyalon Jadi Dirjen WHO?Dirjen WHO merupakan posisi puncak organisasi kesehatan global yang sangat prestisius. Namun, muncul pertanyaan besar di publik: Menteri Kesehatan (Menkes) BGS yang berlatar belakang bukan dokter, apakah berpeluang untuk mencalonkan diri? Pakar kesehatan internasional memberikan pandangan beragam. Mereka menilai bahwa kepemimpinan WHO membutuhkan lebih dari sekadar gelar medis. BGS memiliki rekam jejak kuat dalam manajemen krisis dan kebijakan publik. Terlebih lagi, pengalaman memimpin sektor kesehatan di negara besar menjadi nilai tawar tersendiri.

Meskipun sebagian besar Direktur Jenderal WHO sebelumnya adalah dokter, konstitusi WHO tidak mematok syarat wajib dokter. Organisasi ini lebih mengedepankan kapasitas manajerial, diplomasi global, dan pemahaman sistem kesehatan. Pakar kebijakan kesehatan dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa syarat utama adalah kemampuan memimpin koalisi negara-negara anggota. Dengan demikian, BGS tetap memiliki pijakan legal untuk mendaftar. Namun, tantangan besar menanti karena para pesaingnya mayoritas berasal dari kalangan medis murni.

Peluang BGS dalam Kacamata Hukum dan Statuta

Dirjen WHO dipilih melalui mekanisme voting oleh World Health Assembly. Aturan main yang berlaku justru menekankan pada kapasitas teknis dan kepemimpinan strategis. Menariknya, statuta WHO tidak menyebutkan kata dokter secara eksplisit. Hal ini menjadi celah hukum yang dapat dimanfaatkan oleh BGS. Banyak pengamat memandang bahwa perubahan zaman menuntut pemimpin WHO yang paham diplomasi antarnegara, bukan hanya klinis. Karena itu, BGS yang memiliki pengalaman di parlemen dan kementerian, memiliki modal komunikasi politik yang kuat.

Sementara itu, beberapa negara Eropa dan Amerika sering kali mengusung kandidat dengan latar belakang medis. Mereka beralasan bahwa kredibilitas ilmiah sangat penting untuk menangani pandemi dan isu-isu kesehatan kompleks. Namun, para ahli lain justru berargumen bahwa manajemen krisis kesehatan global membutuhkan pendekatan lintas sektoral. Pada titik ini, BGS bisa menawarkan perspektif baru yang lebih integratif. Terlebih lagi, pengalamannya mengoordinasikan logistik vaksin saat pandemi menjadi portofolio empiris yang kuat.

Peta Persaingan dan Kultur Organisasi

Dalam bursa calon Dirjen WHO, setiap kandidat harus mengumpulkan dukungan minimal dari beberapa negara anggota. Ini bukan tugas mudah mengingat organisasi ini memiliki kultur birokrasi yang kental. Namun, BGS dikenal sebagai sosok yang agresif dalam membangun jejaring internasional. Kunjungan kerjanya ke berbagai negara sering kali meninggalkan kesan positif. Karena itu, secara politis, ia memiliki peluang yang realistis.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa para profesional medis di WHO mungkin skeptis terhadap pemimpin non-dokter. Mereka mengkhawatirkan hilangnya sentuhan klinis dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa WHO semakin mengarah pada pendekatan One Health yang melibatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Pendekatan ini memerlukan pemimpin yang mampu berpikir sistemik, bukan hanya dokter. BGS jelas memiliki kapasitas tersebut, sebagaimana ia pernah merumuskan kebijakan kesehatan nasional yang komprehensif.

Persyaratan Tersembunyi: Dukungan Politik dan Visi

Dirjen WHO sejatinya adalah jabatan politik yang membutuhkan negosiasi tingkat tinggi. Proses seleksi melibatkan lobi intensif antar negara. BGS memiliki pengalaman sebagai anggota parlemen, yang memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika politik. Kemampuan ini sangat berharga dalam memenangkan suara negara-negara berkembang, yang jumlahnya dominan di Majelis Kesehatan Dunia. Apalagi, BGS sering kali menyuarakan kepentingan negara-negara Selatan dalam forum internasional.

Di sisi lain, lawan potensial seperti mantan menteri kesehatan dari Eropa memiliki jaringan kuat di WHO. Mereka sudah lama berkecimpung dalam berbagai komite teknis. Namun, BGS dapat menyeimbangkan hal ini dengan program kerja yang populis, seperti penguatan sistem kesehatan primer dan kesiapsiagaan pandemi. Ia perlu memasarkan visi ini secara masif kepada para delegasi. Jika berhasil, bukan tidak mungkin dukungan akan mengalir karena negara-negara menginginkan perubahan gaya kepemimpinan.

Kelebihan dan Kekurangan yang Harus Dipertimbangkan

Keunggulan utama BGS adalah kemampuannya dalam menghadapi tekanan politik domestik yang rumit. Ia pernah mengambil kebijakan berani di tengah gejolak ekonomi dan sosial. Hal ini menunjukkan ketahanan mental dan fleksibilitas dalam pengambilan keputusan. Selain itu, BGS sangat fasih dalam membangun citra publik melalui media sosial. Untuk menjadi Dirjen WHO, popularitas justru sering kali menjadi kunci untuk melobi delegasi.

Namun, kekurangan yang paling mencolok adalah kurangnya pengakuan dari komunitas medis internasional. Beberapa jurnal ilmiah mungkin akan mengkritik pencalonannya. Untuk mengatasinya, BGS dapat menggandeng penasihat medis yang sangat kredibel sebagai juru bicara teknis. Dia juga perlu menerbitkan makalah kebijakan yang kuat tentang isu-isu global. Pubikasinya yang segar bisa menjadi pembeda dari kandidat lain yang terkesan tradisional.

Sinyal Dukungan dan Penolakan dari Kawasan

Sejumlah negara di Asia Tenggara dan Afrika secara informal menyambut baik potensi pencalonan BGS. Mereka menilai sosoknya mewakili semangat negara berkembang untuk memimpin lembaga global. Sinyal ini tentu saja menjadi modal berharga untuk menggalang suara. Sebaliknya, beberapa negara Eropa mungkin akan mencari kandidat dari blok mereka sendiri. Persaingan antar kawasan ini adalah hal yang wajar dalam sejarah WHO.

Meskipun demikian, BGS tidak akan melangkah sendirian. Pemerintah Indonesia tentunya akan mengerahkan seluruh instrumen diplomasi untuk mendukung putra terbaiknya. Kementerian Luar Negeri akan membentuk tim khusus untuk melobi negara-negara sahabat. Ini adalah strategi yang biasa dilakukan oleh negara calon. Dengan dukungan penuh dari presiden dan parlemen, posisi tawar BGS menjadi semakin menguat.

Kesimpulan: Peluang Terbuka Lebar, tetapi Butuh Strategi Jitu

Secara ringkas, peluang BGS untuk menjadi Dirjen WHO sangat terbuka selama ia mampu memainkan kartu politik dan diplomatik dengan cermat. Meski bukan dokter, pengalaman manajerial dan jejaringnya tidak bisa diremehkan. Kuncinya adalah membangun persepsi bahwa kepemimpinan WHO membutuhkan lebih banyak manajer krisis daripada klinisi. Oleh karena itu, BGS harus memperkuat tim komunikasi dan risetnya untuk meyakinkan para pemangku kepentingan.

Pada akhirnya, keputusan berada di tangan negara-negara anggota yang akan memilih dalam beberapa bulan mendatang. Yang jelas, kontestasi ini akan menjadi ajang uji bagi kredibilitas BGS di mata internasional. Apapun hasilnya, pencalonan ini telah membuka diskusi penting tentang kriteria pemimpin global di masa depan. Inilah saatnya untuk berani melampaui sekat profesi, demi kemajuan kesehatan dunia.

Baca Juga:
Jangan Diabaikan! 3 Kebiasaan Bikin Cepat Tua

Tinggalkan Balasan